Sumbawa, dwipamedia.com – Keberadaan Juru Sembelih Halal (Juleha) memang sangat dibutuhkan di Kabupaten Sumbawa. Terutama dalam upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam membangun ekosistem halal di daerah.
Demikian disampaikan Bupati Sumbawa H. Syarafuddin Jarot saat membuka Pelatihan Juru Sembelih Halal Khusus Unggas Angkatan I Tahun 2026, yang terlaksana pada Selasa (23/6/2026), di aula Hotel Tambora Sumbawa. Pelatihan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas KUKM Perindag dengan Halal Institut Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh para peserta yang dipersiapkan untuk menjadi juru sembelih halal yang kompeten dan bersertifikat, guna mendukung penguatan ekosistem halal di Kabupaten Sumbawa.
Bupati menyampaikan, pelatihan juru sembelih halal memiliki nilai strategis dan perlu dilaksanakan secara rutin setiap tahun, terutama dalam rangka mendukung Program Hilirisasi Unggas Terintegrasi senilai Rp1,7 triliun yang dalam waktu dekat akan dibangun di Kabupaten Sumbawa. “Program hilirisasi unggas terintegrasi yang akan segera hadir di Sumbawa membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten. Para juru sembelih halal yang telah memiliki sertifikasi akan menjadi salah satu prioritas untuk diserap dalam program tersebut,” tuturnya.
Ditegaskan, keberadaan juru sembelih halal tidak hanya penting untuk memenuhi aspek regulasi dan kebutuhan industri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem halal yang kuat di Kabupaten Sumbawa. Karena itu, ia berharap seluruh pelaku usaha dapat secara bertahap memenuhi kewajiban sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku.
H Jarot mengingatkan proses penyembelihan hewan bukan hanya memenuhi syarat halal secara administratif. Menurutnya, profesi juru sembelih halal harus dijalankan dengan kesadaran dan penghayatan yang mendalam karena berkaitan langsung dengan kehidupan makhluk hidup yang akan dikonsumsi masyarakat. “Penyembelihan hewan bukan hanya soal halal secara formal. Ketika kita memutuskan nyawa makhluk hidup, maka proses itu harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan penghayatan agar menghadirkan keberkahan,” ungkapnya.
Ia berharap para peserta tidak hanya mengejar sertifikat sebagai bukti kompetensi formal, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai spiritual yang melekat pada profesi tersebut. (awe)













