Sumbawa, dwipamedia.com – Produksi rumput laut di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2025 cenderung menurun, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski begitu, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa terus berkomitmen dalam pengembangan potensi lahan untuk budidaya rumput laut.
Hal itu disampaikan Kepala Dislutkan Sumbawa melalui Kabid Budidaya Perikanan Naeli Zakiyah, kepada wartawan Rabu (11/3/2026). Selama tahun 2025 produksi rumput laut hanya mencapai sekitar 147.000 ton, sedangkan di tahun 2024 produksinya bisa mencapai 300.000-400.000 ton.
Diungkapkan, hal itu terjadi karena ada beberapa sentra produksi yang tidak berproduksi rumput laut lagi. Bahkan dari puluhan lokasi sentra produksi hanya sebagian kecil saja yang masih bisa bertahan sampai saat ini.
Lebih jauh dijelaskan, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan rumput laut menjadi rusak dan rontok. Beberapa faktor tersebut diantaranya kualitas air termasuk kualitas benih yang tidak tahan terhadap perubahan iklim perairan laut. “Jadi, benih yang ada di kita (Sumbawa) saat ini jarang diperbaharui lagi, sehingga tidak tahan terhadap perubahan suhu perairan yang ada saat ini,” terangnya.
Penyebab lain turunnya produksi tersebut yakni terkait harga yang cenderung murah. Hal itu menjadi tantangan bagi para pembudidaya untuk melakukan penanaman. Pada tahun-tahun sebelumnya harga rumput laut Sumbawa bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp28.000 per kilogram, yang diambil dari petani langsung. Sementara pada tahun 2025 harga tertinggi hanya di angka Rp15.000 per kilogram, sementara untuk biaya bibit berkisar Rp4.000-Rp5.000 per kilogram.
Diungkapkan, saat ini ada beberapa sentra produksi yang tidak aktif. Namun justru ada lokasi baru yang mulai melakukan aktivitas usaha budidaya, seperti di Labuhan Ujung, Tanjung Bila.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi lahan untuk budidaya rumput laut. Hal itu dilakukan lantaran untuk budidaya rumput laut masuk dalam salah satu program strategis nasional (PSN). “Kami akan terus berupaya mengembangkan lokasi produksi rumput laut. Karena masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk program budidaya tersebut,” pungkasnya. (awe)














