Sumbawa, dwipamedia.com – Pengembangan tambak garam menjadi salah satu proyek strategis nasional di Kabupaten Sumbawa. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berencana menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penyusunan Feasibility Study (FS) dalam rencana pengembangan tambak garam.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat mengatakan, penyusunan FS dilakukan sebagai salah satu kelengkapan dokumen, agar rencana pengembangan tambak garam masuk dalam program strategis nasional. Saat ini, Pemkab Sumbawa sudah menyiapkan 13.000 hektar lahan untuk program tersebut, sehingga harus dilakukan kajian. “Pembicaraan awal dengan BRIN terkait rencana penyusunan FS itu sudah kita lakukan. Kami juga akan kembali bertemu untuk mematangkan rencana tersebut,” tuturnya, pada Kamis (18/6/2026).
Lebih lanjut dijelaskan, dari 13.000 hektar lahan yang disiapkan tersebut, ada sekitar 2.500 hektar kategori Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang kini statusnya sudah dikeluarkan. Pemerintah pun sudah menyiapkan lahan pengganti atas pengalihan status lahan seluas 3.500 hektar. “Status lahannya yang Pemerintah siapkan sudah tidak ada masalah untuk LP2B, karena status tersebut sudah kita revisi di Perda RTRW yang baru termasuk lahan penggantinya juga sudah kita siapkan,” terangnya.
Dijelaskan, berdasarkan kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah, sudah di deliniasi lahan seluas 7.000 hektar. Sehingga, untuk membuat kebijakan lebih lanjut, dibutuhkan data lebih detail lagi. Untuk itu masih menunggu hasil study kelayakan baik dari segi topografi maupun teknis lainnya. “Kami berharap dari segi FS tersebut kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih detail terkait kondisi lahan, dan bisa sesuai untuk program pengembangan garam dengan teknologi evaporasi,” ujarnya.
Menurut hasil inventarisasi awal rencana lokasi lahan tersebut, saat ini ada 180 orang pemilik dengan status Sertifikat Hak Milik (SHM). Bahkan di lokasi tersebut juga sudah ada infrastruktur jalan usaha tani tinggal dilakukan penataan lebih lanjut untuk memudahkan akses. “Jalanya sudah ada selebar 3-5 meter dan saat ini jalan tersebut digunakan oleh petani untuk membawa hasil pertanian dan perkebunan,” pungkasnya. (awe)













