Sumbawa, dwipamedia.com – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa Rahmat Hidayat, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Teluk Saleh sebagai lokasi penelitian strategis. Hal ini ditandai dengan kunjungan Tim Konsorsium Riset EMERGE ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa, pada Kamis (26/3/2026).
Tim konsorsium tersebut terdiri dari sejumlah lembaga ternama, di antaranya University of Technology Sydney (UTS) Australia, IPB University, Universitas Mataram, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), KNTI, serta Rekam Nusantara. Kunjungan ini dalam rangka menyampaikan rencana penelitian terkait desain pengelolaan Teluk Saleh yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan nelayan dan ketahanan pangan berbasis sumber daya kelautan.
Menurut Dayat – sapaan akrabnya, riset ini akan sangat membantu pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program yang tepat sasaran di sektor kelautan dan perikanan.
“Ini menjadi referensi penting bagi kami dalam menyusun kebijakan ke depan. Di satu sisi, sumber daya pesisir memiliki nilai ekonomi tinggi, namun di sisi lain masih banyak nelayan yang kondisi ekonominya memprihatinkan. Ini menjadi ironi yang harus kita jawab bersama,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan lintas jenjang pemerintahan, mulai dari pusat hingga ke tingkat paling bawah, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dengan adanya kolaborasi riset ini, diharapkan Teluk Saleh tidak hanya menjadi kawasan yang lestari secara ekologi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
“Koordinasi harus terus dilakukan agar tujuan dan sasaran program dapat tercapai secara optimal,” ujarnya.
Sementara Perwakilan konsorsium Luky Adrianto dari IPB University menjelaskan, hasil penelitian ini diharapkan menjadi rujukan penting bagi pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.
“Penelitian ini tidak hanya fokus pada keberlanjutan ekosistem perairan Teluk Saleh, tetapi juga menjawab persoalan sosial ekonomi masyarakat pesisir,” tukasnya.
Dijelaskan, tim tidak memulai dari nol, mengingat sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) yang terlibat sebelumnya telah melakukan kajian awal terkait kondisi ekosistem pesisir di wilayah tersebut. (dmn)














