Sumbawa, dwipamedia.com – Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa saat ini telah menyiapkan sejumlah langkah inovatif untuk mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus berkontribusi pada program strategis daerah di tahun 2026.
Kepala Dislutkan Sumbawa Rahmat Hidayat menjelaskan, sumber utama PAD sektor kelautan dan perikanan berasal dari penyewaan Balai Benih Induk (BBI) Meno serta retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Goa Labuhan Badas dan Labu Bua, Utan. “Ini merupakan kontribusi utama kami untuk kas daerah,” terang Dayat – sapaan akrabnya, pada Kamis (15/1/2026).
Ia mengakui adanya tantangan signifikan yang menghambat pencapaian target 100 persen. Kendala utama terletak pada penyewaan BBI Meno, dengan potensi nilai sewa sebesar Rp178,5 juta yang belum tergarap optimal. “Kami menghadapi persaingan ketat dengan usaha pembenihan swasta (benur) yang semakin berkembang. Selain itu, permintaan benih ikan air tawar dari pembudidaya juga mengalami penurunan drastis,” jelasnya.
Penurunan ini, menurut Dayat, disebabkan oleh semakin mandirinya sentra budidaya seperti Kecamatan Batu Lanteh yang sudah mampu melakukan pembenihan sendiri. Kondisi ini menuntut Dislutkan untuk beradaptasi dan mencari sumber penerimaan baru yang lebih strategis.
Menyikapi tantangan tersebut, Dislutkan Sumbawa merancang langkah taktis pada tahun 2026. Salah satu strategi utama adalah optimalisasi aset berupa induk-induk ikan yang sudah tidak produktif lagi di BBI Meno. Indukan tersebut akan didistribusikan sebagai ikan konsumsi dengan harga khusus. “Kami berencana menjual ikan konsumsi dari induk yang tidak produktif lagi dengan harga Rp25.000 per kilogram. Harga ini jauh di bawah harga pasar saat ini,” terangnya.
Strategi ini tidak hanya bertujuan untuk menambah pemasukan daerah, tetapi juga mendapatkan apresiasi positif dari DPRD, yang melihat langkah ini sebagai terobosan yang selaras dengan program prioritas daerah.
Dengan strategi ini, Dislutkan Sumbawa berupaya melakukan transformasi dari sekadar unit penghasil pendapatan menjadi institusi yang berkontribusi langsung pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Penjualan ikan murah diharapkan dapat mengisi celah kebutuhan protein hewani yang terjangkau, sekaligus membuka akses pasar baru bagi produk perikanan daerah. “Harapan kami, langkah ini tidak hanya membantu mengejar target PAD, tetapi juga memberikan dampak sosial yang nyata. Sinergi antara peningkatan pendapatan daerah dan pemenuhan gizi masyarakat adalah tujuan utamanya,” pungkasnya. (dmn)














