Sumbawa, dwipamedia.com – Selama beberapa bulan, Tim Ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) telah melaksanakan riset di kawasan transmigrasi di Kabupaten Sumbawa, tepatnya di Kecamatn Labangka dan Plampang. Hasilnya, ditemukan beberapa hal terutama terkait infrastruktur yang harus segera mendapat penanganan. Sehingga dalam waktu dekat diusulkan ke Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI, agar dilakukan pengerjaan.
Ketua Tim I Ekspedisi Patriot Berlian Al Kindhi kepada wartawan, Senin (1/12/2025) menjelaskan, ini merupakan program yang dijalankan tim patriot dari Kementrans. Ada beberapa tim yang dibentuk, dan pihaknya dari tim I ditugaskan memberikan rekomendasi dan evaluasi kawasan transmigrasi. “Jadi kami mengevaluasi seluruh aspek, baik dari infrastruktur, pendidikan, pertanian, gizi, sosial ekonomi dan budaya,” terangnya.
Dari analisis tim, lanjut Indhi – sapaan akrabnya, ada beberapa yang menjadi catatan penting, seperti dari sisi pendidikan. Dimana untuk di kawasan transmigrasi Labangka banyak ditemukan tingkat pendidikan masyarakat rata-rata hingga SMP. Kemudian dari sisi kesehatan, ada beberapa pustu yang harus dilakukan perbaikan. “Misalkan kurang dana, maka usulan kami itu diadakan puskesmas keliling, dari kota mereka dengan mobil datang ke setiap desa untuk di gilir. Itu yang kami usulkan ke Kementerian Transmigrasi,” kata Indhi.
Selain itu dari sisi infrastruktur, pihaknya mengamati adanya jalan usaha tani, jalan lingkungan mengalami rusak berat. Dan yang diperbaiki Pemerintah selama ini diketahui berada di jalan provinsi yang sudah aspal. “Kawasan transmigrasi itu ada 8 desa sebagai lokus, 5 di kecamatan Labangka dan 3 di kecamatan Plampang. Yang kami temukan hampir semua infrastruktur jalan rusak berat, terutama di SP 3,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu yang menjadi masalah utama di daerah transmigrasi yakni terkait air, baik irigasi untuk area pertanian, dan ketersedian air bersih bagi konsumsi masyarakat. Dimana keduanya dinilai tidak mencukupi bagi kebutuhan masyarakat. “Memang ada sumur bor, tapi tidak optimal. Untuk irigasi memang ada, tapi cuman cekungan tanah. Padahal irigasi ini harus berstruktur kemana arahnya. Ini yang juga kami usulkan,” tuturnya.
Lebih jauh ditegaskan, semua catatan penting dari hasil riset yang dilakukan tersebut, segera dilaporkan dan diusulkan ke Kementerian Transmigrasi. Namun menurutnya, yang lebih prioritas untuk segera direalisasikan yakni perbaikan infrastruktur seperti jalan usaha tani, dan jalan lingkungan. Termasuk ketersediaan air bersih dan perbaikan irigasi. “Karena jika ini (Infrtastruktur) bagus, maka adik-adik tidak malas sekolah, dan petani juga bisa memanfataakannya untuk menjual hasil panen, dan ambulan mudah masuk ke kampung warga. Itu yang paling utama,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Tim II Ekspedisi Patriot Hepi Hapsari Handayani, yang menilai masalah kerusakan jalan menjadi hal utama yang harus segera diselesaikan. Berdasarkan data spasial yang dimiliki, sekitar 52 kilometer kerusakan jalan khusus wilayah kawasan transmigrasi di 5 desa, dengan yang paling paling panjang berada di desa SP3. Dimana kerusakan itu implikasinya ke rantai pasok dari hasil pertanian. “Tindaklanjut kami sangat merekomendasi ke Kementerian Transmigrasi yang pertama bisa bantu infrastruktur, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi, rantai pasok dan lainnya,” terangnya.
Selain itu, Hepi juga akan mengusulkan peningkatan SDM bagi masyarakat dalam hal ini petani, terkait pelatihan, pengolahan, pengelolaan agar berkelanjutan. “Kami harap ekonomi di kawasan transmigrasiini dapat dikembangkan dan berkelanjutan. Jadi harus ada kolaborasi bersama pemerintah. Harapan kami yang paling bisa dilakukan yang menurut kami harus sesegera mungkin itu pelibatan koperasi merah putih, agar bisa mengelola gudang penyimpanan untuk hasil panen,” tuturnya.
Diungkapkan, saat ini sudah ada 5 gudang penyimpanan diwilayah transmigrasi, sehingga butuh dua lagi agar mencukupi penyimpanan di gudang. “Yang menjadi kendala ini gudangnya itu sendiri belum tersebar, dan kami merekomendasikan ada dua gudang penyimpanan lagi yang mungkin nanti bisa difasilitasi melalui koperasi merah putih yaitu di desa Jaya Makmur dan di desa SP2. Di dua desa itu memang belum memiliki, sehingga kami merekomendasikan, dengan melihat juga aksesibilitas terhadap jalan, aksesibilitas terhadap lahan pertanian dan toko-toko pertanian yang menyediakan pupuk-pupuk,” pungkasnya. (awe)














